Modul Olimpiade IPA SD — Bab 4
Pegang gelas berisi es dengan tangan kirimu, dan gelas berisi teh hangat dengan tangan kananmu. Tunggu setengah menit, lalu celupkan kedua tanganmu ke dalam satu baskom berisi air biasa.
Yang aneh akan terjadi: tangan kirimu merasa air itu hangat, sedangkan tangan kananmu merasa air yang sama itu dingin. Padahal airnya cuma satu.
Percobaan kecil ini mengajarkan satu hal penting: perasaan kita bukan alat ukur yang bisa dipercaya. Kita butuh cara yang objektif untuk menyatakan panas dan dingin — dan itulah yang akan kamu pelajari di bab ini.
Kamu juga akan tahu mengapa gelas bisa pecah disiram air panas, mengapa kursi logam terasa lebih dingin daripada kursi plastik padahal berada di ruangan yang sama, dan mengapa air laut lambat sekali panasnya dibanding pasir pantai.
Ayo mulai.
Suhu menyatakan derajat panas atau dinginnya suatu benda. Tapi ada penjelasan yang lebih dalam dan lebih berguna untuk olimpiade.
Suhu sebenarnya adalah ukuran energi gerak rata-rata partikel penyusun benda. Makin tinggi suhunya, makin cepat partikelnya bergerak.
Jadi kalau ada dua gelas berisi air dengan volume sama, satu bersuhu 27 °C dan satu bersuhu 80 °C, maka molekul air pada gelas 80 °C bergerak lebih cepat. Bukan sekadar "lebih panas" — memang benar-benar bergerak lebih cepat.
Kalor adalah energi panas yang berpindah dari benda bersuhu tinggi ke benda bersuhu rendah. Satuannya joule (J) atau kalori (kal).
Ingat! Kalor selalu mengalir dari suhu tinggi ke suhu rendah, tidak pernah sebaliknya. Pernyataan "panas mengalir dari benda bersuhu rendah ke benda bersuhu tinggi" adalah pernyataan yang salah — dan sering dipasang sebagai jebakan pada soal "manakah yang TIDAK benar".
Perbedaan keduanya bisa kamu pegang begini: suhu adalah keadaan sebuah benda, sedangkan kalor adalah energi yang berpindah. Segelas air mendidih dan sepanci air mendidih punya suhu sama (100 °C), tetapi sepanci air menyimpan kalor jauh lebih banyak karena massanya lebih besar.
Termometer bekerja dengan memanfaatkan sifat zat yang berubah secara teratur mengikuti suhu. Pada termometer cairan, sifat itu adalah pemuaian: cairan memuai saat dipanaskan sehingga naik di dalam pipa.
Bagian-bagiannya:
| Pembanding | Raksa | Alkohol |
|---|---|---|
| Warna | mengilap, mudah dilihat | perlu diberi pewarna |
| Titik beku | −39 °C | −114 °C (bagus untuk daerah sangat dingin) |
| Titik didih | 357 °C (bagus untuk suhu tinggi) | 78 °C |
| Membasahi dinding | tidak (mudah dibaca) | ya (sedikit menempel) |
| Skala | Titik beku air | Titik didih air | Panjang skala |
|---|---|---|---|
| Celsius (°C) | 0 | 100 | 100 bagian |
| Reaumur (°R) | 0 | 80 | 80 bagian |
| Fahrenheit (°F) | 32 | 212 | 180 bagian |
| Kelvin (K) | 273 | 373 | 100 bagian |
Dari tabel itu lahir perbandingan yang wajib kamu hafal:
C : R : (F - 32) = 5 : 4 : 9
Ingat! Angka 32 hanya muncul pada Fahrenheit, karena hanya Fahrenheit yang titik beku airnya bukan nol. Kelvin cukup ditambah 273 tanpa dikalikan apa pun, karena satu derajat Kelvin sama besar dengan satu derajat Celsius.
Suhu tubuh seseorang 37 °C. Nyatakan dalam Kelvin, Fahrenheit, dan Reaumur.
Pembahasan:
K = 37 + 273 = 310 \text{ K}
F = \left(\tfrac{9}{5} \times 37\right) + 32 = 66{,}6 + 32 = 98{,}6^\circ\text{F}
R = \tfrac{4}{5} \times 37 = 29{,}6^\circ\text{R}
Jawaban: 310 K; 98,6 °F; 29,6 °R.
Ingat! Angka 98,6 dan 310 sering tertukar tempatnya pada pilihan jawaban. Periksa besarannya: nilai Kelvin pasti jauh lebih besar daripada Celsius (selisih 273), sedangkan Reaumur pasti lebih kecil daripada Celsius.
Ingat! Kesalahan tersering pada soal semacam ini adalah membandingkan angka tanpa menyamakan satuannya lebih dulu. Angka 65 memang jauh lebih kecil daripada 150, tetapi satuannya berbeda sehingga perbandingannya tidak sah.
Soal olimpiade sering menyajikan termometer buatan sendiri dengan skala aneh — misalnya "termometer T" atau skala dalam sentimeter. Kelihatannya sulit, padahal caranya satu saja untuk semua.
Prinsipnya: letak yang sama pada dua skala pasti menyatakan suhu yang sama. Karena itu, bandingkan jarak dari titik bawah terhadap panjang seluruh skala.
\frac{X - X_{\text{bawah}}}{X_{\text{atas}} - X_{\text{bawah}}} = \frac{C - 0}{100 - 0}
Sebuah termometer tak bernama menunjukkan 4 cm saat es mencair, 22 cm saat air mendidih, dan 12 cm ketika mengukur air sungai. Berapa suhu air sungai dalam skala Celsius?
Pembahasan:
Langkah 1 — kenali titik acuannya. Es mencair berarti 0 °C, terletak di 4 cm. Air mendidih berarti 100 °C, terletak di 22 cm.
Langkah 2 — hitung panjang seluruh skala.
22 - 4 = 18 \text{ cm}
Langkah 3 — hitung jarak titik yang diukur dari titik bawah.
12 - 4 = 8 \text{ cm}
Langkah 4 — bandingkan.
C = \frac{8}{18} \times 100 = 44{,}4^\circ\text{C}
Jawaban: Suhu air sungai kira-kira 44,4 °C.
Ingat! Jangan pernah lupa mengurangi titik bawahnya lebih dulu. Kesalahan paling sering adalah langsung membagi 84 dengan 180, padahal titik nol skala B tidak berada di angka 0.
Makin tinggi suatu tempat, makin dingin udaranya. Patokan yang dipakai di soal: setiap naik 100 meter, suhu turun sekitar 1 °C.
Ketika benda dipanaskan, partikelnya bergetar lebih kuat sehingga saling menjauh sedikit. Akibatnya benda itu memuai — ukurannya bertambah. Sebaliknya, saat didinginkan benda akan menyusut.
Untuk benda berbentuk batang, pertambahan panjangnya dihitung dengan:
\Delta L = \alpha \times L_0 \times \Delta T
dengan \alpha = koefisien muai panjang (tiap bahan berbeda), L_0 = panjang mula-mula, dan \Delta T = kenaikan suhu.
| Bahan | Koefisien muai panjang (/°C) |
|---|---|
| Aluminium | 0,000024 |
| Perak | 0,000020 |
| Tembaga | 0,000017 |
| Besi | 0,000012 |
Pemuaian tidak hanya terjadi pada zat padat. Zat cair dan gas juga memuai — bahkan lebih besar. Urutannya: gas memuai paling besar, lalu zat cair, lalu zat padat.
Ingat! Pemuaian panjang dibahas untuk benda padat yang berbentuk batang, seperti besi, timah, dan seng. Air dan kayu tidak dipakai sebagai contoh pemuaian panjang — air karena berwujud cair, dan kayu karena bukan bahan yang lazim dipakai untuk perhitungan itu.
Bimetal adalah dua keping logam berbeda jenis yang dikeling menjadi satu. Karena koefisien muainya berbeda, keping ini akan melengkung saat suhunya berubah.
Aturannya cukup satu kalimat, tapi harus benar-benar kamu pegang:
Kenapa begitu? Bayangkan dua orang berpegangan tangan sambil berjalan. Yang melangkah lebih panjang akan berada di sisi luar lingkaran, dan keduanya berbelok menjauhinya. Logam yang memuai lebih banyak persis seperti orang itu: ia menjadi sisi luar lengkungan, sehingga bimetal membelok menjauhinya.
Ingat! Ini titik yang paling sering terbalik. Logam yang memuai lebih besar menjadi sisi luar, jadi lengkungannya mengarah ke logam yang memuai lebih kecil. Sekali kamu pegang gambaran "orang berpegangan tangan" tadi, kamu tidak akan tertukar lagi.
Bimetal dipakai pada sakelar otomatis setrika, termostat kulkas, dan lampu sein kendaraan.
Ketika air panas dituang, dinding dalam gelas langsung bersentuhan dengan air sehingga cepat panas dan cepat memuai. Dinding luar masih dingin dan belum sempat memuai sebanyak itu. Selisih pemuaian ini menimbulkan tegangan di dalam kaca, dan gelas pun retak lalu pecah.
Ingat! Dinding luar bukan berarti tidak memuai sama sekali — ia tetap memuai, hanya saja lebih lambat. Pilihan jawaban "bagian luar tidak memuai" adalah pengecoh. Yang benar: bagian dalam memuai lebih cepat daripada bagian luar.
Karena itu gelas tipis lebih tahan disiram air panas daripada gelas tebal — pada gelas tipis, selisih suhu antara sisi dalam dan sisi luar jauh lebih kecil.
Kabel listrik dan kabel telepon selalu dipasang agak kendur pada cuaca panas. Alasannya begini: pada cuaca panas kabel sedang dalam keadaan paling panjang. Nanti ketika cuaca dingin, kabel menyusut dan menjadi lebih pendek. Kalau tadi dipasang tegang, penyusutan itu akan membuatnya tertarik keras sampai bisa putus.
Prinsip yang sama muncul di banyak tempat: sambungan rel kereta api diberi celah, jembatan diberi tumpuan bergerak (rol), dan bingkai kaca jendela dibuat sedikit lebih longgar daripada kacanya. Pemuaian tidak bisa dicegah — yang bisa dilakukan hanyalah memberinya jalan.
Untuk menaikkan suhu sebuah benda, kita harus memberinya kalor. Pertanyaannya: berapa banyak?
Q = m \times c \times \Delta T
dengan Q = kalor (joule), m = massa (kg), c = kalor jenis (J/kg°C), dan \Delta T = kenaikan suhu (°C).
Rumus ini masuk akal kalau dipikirkan pelan-pelan. Untuk memanaskan air satu panci penuh jelas butuh lebih banyak kalor daripada satu gelas — itulah peran m. Untuk menaikkan suhu sampai 80 °C butuh lebih banyak daripada sampai 40 °C — itulah peran \Delta T. Dan tiap bahan punya "kesulitan" sendiri untuk dipanaskan — itulah peran c.
Ingat! Perhatikan betapa jauh selisihnya. Air membutuhkan hampir seratus kali lipat kalor dibandingkan pancinya, padahal keduanya dipanaskan sampai suhu yang sama. Penyebabnya dua: massanya lebih besar dan kalor jenisnya jauh lebih tinggi.
Kalor jenis (lambangnya c) menyatakan berapa banyak kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 kg bahan itu sebesar 1 °C.
| Bahan | Kalor jenis (J/kg°C) |
|---|---|
| Perak | 235 |
| Besi | 460 |
| Kaca | 670 |
| Aluminium | 900 |
| Es | 2.100 |
| Air | 4.200 |
Soal olimpiade selalu menanyakan salah satu dari dua sudut pandang ini. Bedanya halus tapi menentukan:
Keduanya sebenarnya kalimat yang sama, hanya dibalik. Kalau kamu ragu, kembalikan saja ke rumus Q = m c \Delta T dan lihat mana yang tetap.
Ingat! Kalor jenis tinggi berarti kenaikan suhunya kecil saat menerima kalor yang sama. Jawaban "kalor jenis tinggi maka perubahan suhunya besar" adalah kebalikan dari yang benar, dan hampir selalu ada di pilihan.
Air memiliki kalor jenis paling tinggi di antara zat yang biasa kita jumpai. Sifat ini sangat berguna:
Sekarang hal yang mungkin mengejutkanmu. Coba panaskan es batu 0 °C sampai menjadi air 0 °C. Suhunya tidak berubah sama sekali — tetap 0 °C. Tapi ternyata kalor yang dibutuhkan sangat besar.
Kalor lebur es adalah 340.000 J/kg. Bandingkan dengan kalor jenis air 4.200 J/kg°C — artinya, meleburkan 1 kg es memerlukan kalor sebanyak yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 kg air sejauh 80 °C lebih!
Kalor yang dipakai untuk mengubah wujud tanpa mengubah suhu disebut kalor laten. Kalornya tidak hilang — ia dipakai untuk memperbesar jarak antarmolekul, melawan gaya tarik yang mengikat molekul-molekul itu.
Ingat! Kalor laten tidak mempercepat gerak molekul dan tidak menaikkan suhu. Inilah sebabnya suhu air tetap 100 °C selama mendidih, walaupun kompor terus menyala. Pilihan jawaban "menaikkan kecepatan rata-rata molekul" adalah jebakan — itu yang terjadi saat suhu naik, bukan saat wujud berubah.
Kalau es dipanaskan terus sampai mendidih, hubungan suhu terhadap kalor membentuk grafik yang khas dan sangat sering keluar di olimpiade.
Cara membacanya cuma dua aturan:
| Bagian | Bentuk | Yang terjadi | Rumus |
|---|---|---|---|
| A–B | miring | es memanas dari suhu awal sampai 0 °C | Q = m \, c_{\text{es}} \, \Delta T |
| B–C | mendatar | es melebur menjadi air pada 0 °C | Q = m L |
| C–D | miring | air memanas dari 0 °C sampai 100 °C | Q = m \, c_{\text{air}} \, \Delta T |
| D–E | mendatar | air mendidih menjadi uap pada 100 °C | Q = m U |
Sebongkah es bermassa 300 gram dipanaskan. Diketahui kalor jenis es 2.100 J/kg°C, kalor lebur es 340.000 J/kg, dan kalor jenis air 4.200 J/kg°C. Berapa kalor yang diperlukan untuk meleburkan es menjadi air pada titik leburnya (bagian B–C pada grafik)?
Pembahasan:
Langkah 1 — kenali bagian grafiknya. B–C adalah bagian mendatar, berarti wujud berubah dan suhu tetap 0 °C.
Langkah 2 — pilih rumus yang tepat. Karena suhunya tetap, kita tidak memakai kalor jenis. Rumusnya Q = m L.
Langkah 3 — samakan satuan massanya.
m = 300 \text{ g} = 0{,}3 \text{ kg}
Langkah 4 — hitung.
Q = 0{,}3 \times 340.000 = 102.000 \text{ J}
Jawaban: 102.000 J.
Ingat! Angka kalor jenis es dan kalor jenis air sengaja diberikan sebagai umpan. Pada bagian mendatar, keduanya tidak dipakai sama sekali. Selalu periksa dulu: apakah suhunya berubah atau tetap?
Perhatikan bahwa tahap peleburan menyedot hampir 87% dari seluruh kalor, padahal suhunya tidak naik sedikit pun. Inilah gambaran betapa besarnya kalor laten.
Ketika dua zat bersuhu berbeda dicampur, kalor mengalir dari yang panas ke yang dingin sampai suhunya sama. Aturannya disebut Asas Black:
Q_{\text{lepas}} = Q_{\text{terima}}
Untuk soal tingkat SD, kasus yang paling sering muncul adalah dua zat yang sama dengan massa sama. Dalam kasus itu, suhu campurannya adalah rata-rata kedua suhu:
T_{\text{campuran}} = \frac{T_1 + T_2}{2}
Lima gelas berisi air bermassa sama dengan suhu: A = 10 °C, B = 20 °C, C = 30 °C, D = 40 °C, dan E = 50 °C. Air pada gelas mana yang harus dicampurkan agar diperoleh suhu 25 °C?
Pembahasan:
Langkah 1 — pakai rumus rata-rata. Karena massanya sama, suhu campuran adalah rata-rata kedua suhu.
Langkah 2 — cari pasangan yang rata-ratanya 25. Artinya jumlah kedua suhu harus 25 \times 2 = 50.
Langkah 3 — uji pasangannya.
Jawaban: Gelas A dan D, karena \tfrac{10 + 40}{2} = 25^\circ\text{C}.
Kita begitu terbiasa dengan angka 0 °C dan 100 °C sampai kadang lupa bahwa keduanya hanya berlaku untuk air pada tekanan normal.
| Zat | Titik lebur | Titik didih |
|---|---|---|
| Raksa | −39 °C | 357 °C |
| Air | 0 °C | 100 °C |
| Timbal | 327 °C | 1.749 °C |
| Besi | 1.538 °C | 2.862 °C |
Ingat! Empat pernyataan berikut semuanya salah: "semua benda padat mencair pada 100 °C", "pada 0 °C semua benda cair membeku", "pada 100 °C semua benda cair menguap", dan "semua zat punya titik didih sama". Yang benar hanya satu: 0 °C adalah titik beku air.
Kalau soal menyajikan grafik pemanasan dua cairan berbeda, cairan yang bagian mendatarnya berada di suhu lebih tinggi berarti punya titik didih lebih tinggi. Perhatikan letak garis mendatarnya, bukan kemiringan awalnya.
Kalor adalah salah satu bentuk energi, sehingga satuan resminya sama dengan satuan energi, yaitu joule (J).
Tetapi di banyak buku dan soal masih dipakai satuan lama bernama kalori (kal). Satu kalori didefinisikan sebagai kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 gram air sebesar 1 °C.
Untuk jumlah yang besar dipakai kilokalori (kkal), yaitu 1.000 kalori — inilah satuan yang tertulis pada kemasan makanan, meskipun sering ditulis singkat sebagai "kalori" saja.
Hubungan kesetaraan antara keduanya perlu kamu hafal:
1 \text{ kalori} = 4{,}2 \text{ joule} \qquad 1 \text{ joule} = 0{,}24 \text{ kalori}
Angka 4,2 itu bukan kebetulan: ia sama persis dengan kalor jenis air dalam satuan J/g°C. Karena itu kalor jenis air ditulis 4.200 J/kg°C bila memakai joule, atau 1 kkal/kg°C bila memakai kalori.
Ingat! Sebelum menghitung, periksa dulu satuan yang dipakai soal. Kalau kalor jenisnya diberikan dalam kkal/kg°C, jawabannya akan keluar dalam kilokalori — jangan dicampur dengan yang memakai joule.
Kalor bisa berpindah dengan tiga cara. Kita bahas satu per satu, mulai dari yang paling mudah dikenali.
Konduksi adalah perpindahan kalor melalui zat padat, tanpa disertai perpindahan zatnya.
Partikel di ujung yang dipanaskan bergetar makin kuat, lalu menularkan getaran itu ke tetangganya, dan seterusnya sampai ke ujung yang lain. Partikelnya sendiri tetap berada di tempatnya masing-masing.
Contoh: menanak nasi (panas merambat lewat wadah), sendok logam terasa panas saat mengaduk kuah, tiang besi terasa lebih panas daripada tiang kayu di siang hari, dan setrika memanaskan pakaian.
Urutan dari yang paling cepat menghantarkan panas: tembaga → aluminium → baja → kaca. Kaca justru tergolong isolator.
Di ruangan yang sama, kursi logam terasa jauh lebih dingin daripada kursi plastik. Padahal keduanya sudah lama berada di ruangan itu, jadi suhunya pasti sama.
Penjelasannya: yang kita rasakan sebagai "dingin" sebenarnya adalah kalor yang meninggalkan kulit kita. Logam adalah konduktor yang baik, sehingga menarik kalor dari kulit dengan cepat. Plastik adalah isolator, sehingga menariknya pelan-pelan.
Ingat! Jawaban "suhu logam lebih rendah daripada suhu plastik" adalah pengecoh yang paling sering dipilih. Rasa dingin mengukur laju kehilangan kalor tubuh, bukan mengukur suhu bendanya.
Konveksi adalah perpindahan kalor pada zat cair dan gas, disertai perpindahan zatnya.
Urutan kejadiannya begini, dan menariknya semuanya kembali ke massa jenis yang kamu pelajari di Bab 2:
Ini contoh konveksi yang paling besar dan paling berguna bagi nelayan. Kuncinya ada pada kalor jenis: air laut berkalor jenis jauh lebih tinggi daripada tanah, sehingga laut lambat panas dan lambat pula dinginnya.
Ingat! Nama anginnya diambil dari tempat asalnya, bukan tujuannya. Angin laut berarti angin yang datang dari laut — dan itu terjadi pada siang hari.
Radiasi adalah perpindahan kalor tanpa memerlukan zat perantara, berupa pancaran.
Bukti paling meyakinkan ada di atas kepala kita: panas matahari sampai ke bumi walaupun harus melewati ruang hampa antariksa yang tidak berisi zat apa pun. Kalau kalor hanya bisa berpindah lewat konduksi atau konveksi, bumi akan membeku selamanya.
Contoh lain: hangat api unggun yang terasa dari jarak jauh, panas dari tungku, dan panas yang terasa saat mendekatkan tangan ke setrika yang menyala.
Dua sifat permukaan menentukan kemampuannya berurusan dengan radiasi:
Penerapannya ada di mana-mana. Tangki penyimpan bahan bakar dicat keperakan mengilap supaya memantulkan radiasi matahari, sehingga bahan bakarnya tidak cepat panas dan tidak banyak menguap. Sebaliknya, panel pemanas air tenaga surya dicat hitam kusam supaya menyerap sebanyak mungkin.
Ingat! Yang terbaik menyerap adalah hitam kusam, bukan "hitam mengilap". Kekilapan selalu mengurangi penyerapan, berapa pun gelapnya warna itu.
| Bagian | Menahan | Cara kerjanya |
|---|---|---|
| Dinding kaca mengilap | radiasi | memantulkan kembali pancaran panas ke dalam |
| Ruang hampa di antara dinding | konduksi | tidak ada zat perantara untuk merambatkan kalor |
| Tutup gabus atau plastik | konveksi | menahan uap panas keluar dan udara dingin masuk |
Penguapan dipercepat oleh: suhu yang tinggi, luas permukaan yang besar, tiupan udara, dan tekanan udara yang rendah.
Karena itu genangan air di jalan paling cepat kering ketika siang terik dan genangannya melebar tipis. Kombinasi suhu tinggi dengan luas permukaan besar memberi hasil tercepat.
Menguap membutuhkan kalor — itulah kalor uap yang kita bahas tadi. Kalor itu diambil dari sekitarnya, sehingga penguapan selalu meninggalkan rasa dingin.
Contohnya pakaian lembap yang menempel di tubuh. Kalor tubuh berpindah ke pakaian lewat sentuhan langsung (konduksi), lalu air di pakaian menerima kalor itu dan menguap membawa kalornya pergi. Pakaian mengering, dan tubuh terasa lebih dingin.
Di puncak gunung, napas kita terlihat seperti asap. Begitu pula air seni yang baru keluar pada pagi hari yang sangat dingin. Penjelasannya sama: uap air yang hangat bertemu udara yang jauh lebih dingin, lalu mengembun menjadi butiran air yang sangat halus. Butiran itulah yang terlihat.
Ingat! Yang terlihat bukan asap dan bukan gas — gas tidak terlihat. Yang terlihat selalu berupa titik-titik air. Syaratnya cuma satu: selisih suhu antara uap hangat dan udara sekitar cukup besar.
Hewan menjaga suhu tubuhnya melalui empat proses fisika sekaligus:
| Cara | Melalui | Zatnya ikut pindah? | Contoh |
|---|---|---|---|
| Konduksi | zat padat | tidak | menanak nasi, sendok di kuah panas |
| Konveksi | zat cair dan gas | ya | air mendidih, angin darat dan angin laut |
| Radiasi | tanpa zat perantara | tidak ada zat | panas matahari, api unggun |
Selamat, kamu sudah menyelesaikan bab keempat!
Bab ini panjang, tetapi kalau kamu perhatikan, semuanya bertumpu pada dua pertanyaan sederhana yang bisa kamu pakai untuk hampir semua soal:
Ada juga satu pola yang muncul berkali-kali di bab ini: hal-hal yang terasa berlawanan dengan dugaan. Logam terasa lebih dingin padahal suhunya sama. Bimetal membelok menjauhi logam yang memuai lebih banyak. Suhu air tidak naik walaupun kompor terus menyala. Kalor jenis tinggi justru berarti kenaikan suhu kecil.
Semua itu bukan untuk dihafal, melainkan untuk dipahami sekali lalu diingat selamanya. Kalau ada jawaban yang terasa "terlalu masuk akal", periksa lagi — di bab ini jawabannya sering justru yang sebaliknya.
Di Bab 5 kita berpindah ke topik yang lebih terasa: Gaya dan Gerak. Kamu akan belajar mengapa benda bergerak, mengapa berhenti, dan mengapa penumpang terdorong ke depan saat bus mengerem mendadak.
Sampai jumpa di sana!