Modul Olimpiade IPA SD — Bab 2
Coba lihat sekelilingmu sebentar. Ada meja, ada udara yang kamu hirup, ada air di gelas, mungkin ada bau masakan dari dapur. Kelihatannya semua itu benda yang berbeda-beda. Tapi kalau kita perkecil pandangan sampai jauh lebih kecil daripada yang bisa dilihat mata, semuanya ternyata tersusun dari hal yang sama: partikel-partikel kecil yang jumlahnya tak terbayangkan banyaknya.
Bab ini akan mengajakmu masuk ke dunia partikel itu. Kamu akan tahu kenapa es mengapung, kenapa besi berkarat sedangkan aluminium tidak, kenapa air naik sendiri lewat tisu, dan kenapa batu apung bisa terapung padahal ia batu.
Semua pertanyaan itu jawabannya satu: lihat partikelnya.
Siap? Ayo mulai.
Materi adalah segala sesuatu yang menempati ruang dan memiliki massa. Dua syarat itu harus dipenuhi keduanya.
Batu jelas materi: ia menempati ruang dan bisa ditimbang. Air juga materi. Udara pun materi — walaupun tak terlihat, ia menempati ruang (buktinya balon bisa menggembung) dan punya massa (buktinya balon yang ditiup jadi sedikit lebih berat).
Lalu, apa yang bukan materi? Cahaya, panas, dan bunyi. Ketiganya adalah bentuk energi. Cahaya tidak bisa ditimbang dan tidak menempati ruang.
Materi hadir dalam tiga wujud: padat, cair, dan gas. Yang membedakan ketiganya bukan jenis partikelnya, melainkan bagaimana partikel itu tersusun dan bergerak.
| Sifat | Zat Padat | Zat Cair | Gas |
|---|---|---|---|
| Bentuk | tetap | berubah mengikuti wadah | berubah mengikuti wadah |
| Volume | tetap | tetap | berubah, memenuhi seluruh wadah |
| Jarak antarpartikel | sangat rapat | agak renggang | sangat berjauhan |
| Susunan partikel | sangat teratur | kurang teratur | acak |
| Gaya tarik antarpartikel | sangat kuat | lemah | sangat lemah |
| Gerak partikel | hanya bergetar di tempat | meluncur berpindah tempat | bebas ke segala arah, cepat |
Ada satu kata yang sering muncul di soal olimpiade: fluida. Fluida adalah zat yang dapat mengalir. Yang termasuk fluida adalah zat cair dan gas — keduanya, bukan salah satunya.
Kenapa keduanya bisa mengalir? Karena partikelnya sama-sama bebas berpindah tempat. Pada zat padat, partikel terkunci di posisinya, jadi zat padat tidak dapat mengalir.
Ingat! Meskipun sama-sama mengalir, cair dan gas tidak sama persis. Perhatikan dua perbedaan ini, karena keduanya sering dijadikan jebakan:
Tadi kita bilang materi tersusun dari partikel. Sekarang pertanyaannya: partikel itu sendiri terbuat dari apa?
Atom adalah satuan dasar penyusun materi. Ukurannya luar biasa kecil — dalam satu titik tinta di ujung pensilmu terdapat miliaran atom.
Atom punya tiga partikel penyusun:
Ingat! Inti atom berisi proton dan neutron. Elektron berada di luar inti. Ini pertanyaan yang hampir selalu muncul, dan jawaban yang menaruh elektron di dalam inti adalah jebakan yang paling sering dipilih.
Atom jarang sekali hidup sendirian. Biasanya ia bergabung dengan atom lain. Gabungan dua atom atau lebih yang saling berikatan disebut molekul.
Molekul ditulis dengan rumus kimia. Air ditulis H₂O. Cara membacanya begini:
Jadi H₂O berarti: 2 atom hidrogen + 1 atom oksigen.
Ingat! Angka 2 pada H₂O menyatakan jumlah atom hidrogen, bukan nama unsur baru. Kalau soal bertanya "dua jenis atom penyusun air", jawabannya hidrogen dan oksigen — bukan hidrogen dan nitrogen, bukan pula oksigen dan karbon.
Beberapa rumus kimia lain yang berguna kamu kenali:
| Rumus | Nama | Tersusun dari |
|---|---|---|
| H₂O | air | 2 atom hidrogen + 1 atom oksigen |
| O₂ | gas oksigen | 2 atom oksigen |
| CO₂ | karbon dioksida | 1 atom karbon + 2 atom oksigen |
| NaCl | garam dapur | 1 atom natrium + 1 atom klorin |
Sekarang kita naik satu tingkat. Kalau materi dikelompokkan berdasarkan susunan penyusunnya, ada tiga golongan.
Perbedaan senyawa dan campuran paling mudah dipegang lewat dua hal:
| Pembanding | Senyawa | Campuran |
|---|---|---|
| Perbandingan penyusun | selalu tetap (air selalu 2 H : 1 O) | bebas (kopi bisa manis atau pahit) |
| Sifat penyusun | hilang, muncul sifat baru | tetap terbawa masing-masing |
| Cara memisahkan | perlu reaksi kimia | cukup cara fisika (disaring, diuapkan) |
Contoh yang menarik: natrium adalah logam yang meledak jika kena air, dan klorin adalah gas beracun. Tapi ketika keduanya berikatan menjadi senyawa NaCl, hasilnya adalah garam dapur yang kita makan setiap hari. Sifat penyusunnya benar-benar hilang. Itulah tanda senyawa.
Ini materi yang paling sering keluar di olimpiade, jadi kita bahas pelan-pelan sampai benar-benar melekat.
Coba bayangkan dua kantong berukuran sama. Yang satu diisi kapas sampai penuh, yang satu diisi pasir sampai penuh. Volumenya sama, tapi kantong pasir jauh lebih berat. Kenapa? Karena di dalam ruang yang sama, pasir memuat lebih banyak materi.
Ukuran untuk hal itu disebut massa jenis (lambangnya \rho, dibaca "rho"). Massa jenis menyatakan berapa banyak massa yang termuat dalam setiap satuan volume.
\rho = \frac{m}{V}
Dari satu rumus itu lahir dua rumus turunan:
m = \rho \times V \qquad \text{dan} \qquad V = \frac{m}{\rho}
| Zat | Massa jenis (g/cm³) |
|---|---|
| Gabus | 0,24 |
| Minyak goreng | 0,80 |
| Es | 0,92 |
| Air | 1,00 |
| Air laut | 1,03 (kira-kira) |
| Aluminium | 2,70 |
| Besi | 7,90 |
| Raksa | 13,60 |
| Emas | 19,30 |
Perhatikan pola pada gambar itu baik-baik, karena inilah bentuk soal yang paling sering muncul: beberapa benda bermassa sama, volumenya berbeda-beda.
Kalau m tetap dan V membesar, maka \rho = m/V menjadi lebih kecil. Artinya materinya tersebar di ruang yang lebih luas — partikelnya lebih renggang.
Ingat! Pada massa yang sama, volume terbesar = massa jenis terkecil = paling renggang. Banyak yang tertukar dan mengira volume terbesar berarti paling rapat. Periksa lagi rumusnya: volume ada di penyebut.
Garam dapat dibuat dengan menguapkan air laut. Kandungan garam pada air laut suatu daerah adalah 60%, dan massa jenis air laut itu 1,2 kilogram per liter.
Pembahasan:
Diketahui: V = 100 \text{ L}, \rho = 1{,}2 \text{ kg/L}, kadar garam 60%.
Langkah 1 — cari massa air lautnya. Jangan langsung menganggap 100 liter sama dengan 100 kg. Kita harus mengalikannya dengan massa jenis.
m = \rho \times V = 1{,}2 \times 100 = 120 \text{ kg}
Langkah 2 — ambil 60% dari massa itu.
m_{\text{garam}} = 60\% \times 120 = 0{,}60 \times 120 = 72 \text{ kg}
Langkah 3 — periksa kembali. 72 : 120 = 0{,}60, benar 60%.
Jawaban: (a) 120 kg; (b) 72 kg garam.
Ingat! Kesalahan paling sering pada soal seperti ini adalah lupa mengalikan volume dengan massa jenis, sehingga 100 liter dikira 100 kg. Volume dan massa adalah dua besaran berbeda — jembatan di antara keduanya adalah massa jenis.
Sekarang kita pakai massa jenis untuk menjawab pertanyaan yang sering ditanyakan anak-anak: kenapa ada benda yang mengapung dan ada yang tenggelam?
Aturannya sederhana — bandingkan massa jenis benda dengan massa jenis zat cairnya:
Es mengapung karena massa jenisnya 0,92 g/cm³, lebih kecil daripada air yang 1,00 g/cm³. Sesederhana itu.
Ingat! Es bukan mengapung karena lebih dingin daripada air, dan bukan karena volumenya lebih kecil. Suhu memang berperan — tapi perannya adalah membuat massa jenisnya berubah. Yang langsung menentukan terapung atau tidak tetaplah massa jenis.
Hal yang sama menjelaskan kenapa kapal baja yang beratnya ribuan ton tetap mengapung: badan kapal berongga dan berisi udara, sehingga massa jenis rata-rata seluruh kapal menjadi lebih kecil daripada massa jenis air laut.
Sebuah balok logam berukuran 5 cm × 4 cm × 2 cm memiliki massa 316 gram. Tentukan massa jenisnya, tebak logam apa itu, dan tentukan apakah ia terapung atau tenggelam di air.
Pembahasan:
Langkah 1 — hitung volume balok.
V = p \times l \times t = 5 \times 4 \times 2 = 40 \text{ cm}^3
Langkah 2 — hitung massa jenisnya.
\rho = \frac{m}{V} = \frac{316}{40} = 7{,}9 \text{ g/cm}^3
Langkah 3 — cocokkan dengan tabel dan bandingkan dengan air. Nilai 7,9 g/cm³ sama dengan massa jenis besi. Karena 7{,}9 > 1{,}00, benda itu tenggelam.
Jawaban: Massa jenisnya 7,9 g/cm³, logamnya besi, dan ia tenggelam di air.
Hampir semua zat menyusut ketika didinginkan. Air juga begitu — tetapi hanya sampai suhu tertentu. Setelah itu, air berbuat sebaliknya. Keanehan inilah yang disebut anomali air.
Yang perlu kamu pegang cuma satu kalimat: air mencapai volume terkecil, dan karenanya massa jenis terbesar, pada suhu 4 °C.
Dari kalimat itu, dua akibatnya bisa kamu turunkan sendiri:
Kebalikannya juga berlaku: ketika es mencair menjadi air, molekulnya justru tersusun lebih rapat, sehingga massa jenisnya naik dari 0,92 menjadi 1,00 g/cm³.
Ingat! Pada rentang 4 °C sampai 0 °C, air memuai saat didinginkan. Jawaban "volume menurun" adalah jebakan yang paling banyak dipilih, karena kita terbiasa berpikir dingin berarti menyusut.
Keanehan ini ada gunanya. Karena es lebih ringan daripada air, di daerah dingin es membeku di permukaan danau, bukan di dasarnya. Lapisan es itu menjadi selimut, dan air di bawahnya tetap cair — sehingga ikan-ikan bisa bertahan hidup sepanjang musim dingin.
Materi bisa berpindah dari satu wujud ke wujud lain. Karena ada tiga wujud, maka ada enam arah perubahan yang mungkin — dan keenamnya punya nama sendiri-sendiri yang wajib kamu kuasai.
| Nama | Arah | Kalor | Contoh sehari-hari |
|---|---|---|---|
| Mencair (melebur) | padat → cair | menyerap | es batu menjadi air, mentega meleleh |
| Membeku | cair → padat | melepas | air menjadi es, lilin cair mengeras |
| Menguap | cair → gas | menyerap | air mendidih, pakaian basah menjadi kering |
| Mengembun | gas → cair | melepas | embun pagi, titik air di dinding luar gelas es |
| Menyublim | padat → gas | menyerap | kapur barus mengecil, es kering (dry ice) |
| Mengkristal (deposisi) | gas → padat | melepas | terbentuknya salju, jelaga di cerobong asap |
Ingat! Perubahan cair menjadi padat namanya membeku, bukan "memadat". Kata "memadat" bukan istilah baku dan sering dipasang sebagai pengecoh.
Kamu tidak perlu menghafal enam-enamnya satu per satu. Ada satu aturan yang menutup semuanya.
Urutkan ketiga wujud dari yang paling teratur ke paling acak: padat → cair → gas. Lalu:
Jadi kalau soal bertanya "perubahan mana yang melepaskan kalor", jawabannya selalu tiga ini: mengembun, membeku, dan mengkristal.
Ingat! Menguap dan mencair menyerap kalor, tidak melepasnya. Buktinya mudah: kalau kamu ingin es mencair, kamu harus memberi panas, bukan mengambilnya.
Ingat! Menyublim menghasilkan gas, bukan zat cair. Kalau kamu keliru di titik ini, seluruh rangkaian jawabannya ikut salah.
Dua bongkah es dengan volume persis sama diletakkan di bawah sinar matahari yang sama. Yang satu utuh, yang satu dipecah menjadi bongkahan-bongkahan kecil. Mana yang mencair lebih dulu?
Jawabannya: yang dipecah kecil-kecil. Alasannya, kalor masuk melalui permukaan. Makin luas permukaan yang bersentuhan dengan udara panas, makin banyak kalor yang bisa diserap dalam waktu yang sama.
Faktor-faktor yang mempercepat perubahan wujud:
Sampai sini semua perubahan yang kita bahas hanya mengubah wujud, tidak mengubah jenis zatnya. Es yang mencair tetaplah air. Sekarang kita masuk ke jenis perubahan yang benar-benar berbeda.
| Pembanding | Perubahan Fisika | Perubahan Kimia |
|---|---|---|
| Zat baru | tidak terbentuk | terbentuk |
| Yang berubah | wujud, bentuk, ukuran | susunan atomnya sendiri |
| Dapat dibalik? | umumnya mudah dibalik | umumnya sukar dibalik |
| Contoh | es mencair, gula larut, kayu dipotong, kertas disobek | kayu dibakar, besi berkarat, singkong menjadi tape, buah membusuk |
Ini bagian yang paling sering menjebak. Dalam satu peristiwa, bisa terjadi perubahan fisika dan perubahan kimia pada saat bersamaan. Lilin yang menyala adalah contoh terbaiknya.
Ketika lilin menyala, ada beberapa hal yang terjadi bersamaan. Mari pilah satu per satu:
Ingat! Terang dan hangat adalah efek yang menyertai reaksi, bukan bukti terbentuknya zat baru. Pertanyaan kuncinya selalu sama: apakah muncul zat yang jenisnya berbeda dari zat asalnya? Kalau tidak, berarti bukan perubahan kimia.
Sekarang mari kita lihat satu perubahan kimia yang terjadi pelan-pelan di sekitar kita setiap hari.
Korosi adalah rusaknya logam karena bereaksi dengan zat di lingkungannya, terutama oksigen dan air. Pada besi, korosi menghasilkan lapisan cokelat kemerahan yang kita sebut karat.
Sekarang bagian yang menarik. Kalau besi dan aluminium sama-sama direndam air selama seminggu, hanya besi yang berkarat. Mengapa?
Sebenarnya aluminium juga teroksidasi — bahkan lebih cepat daripada besi. Bedanya ada pada hasilnya:
Ingat! Istilah "karat" khusus dipakai untuk besi. Kalau soal menanyakan logam mana yang berkarat, jawabannya besi saja. Pilihan "kedua logam berkarat" adalah pengecoh yang paling menggoda karena terdengar adil — padahal salah.
Cara mencegah besi berkarat pada dasarnya satu: halangi pertemuan besi dengan udara dan air. Caranya bisa dicat, dilapisi oli, dilapisi logam lain (misalnya seng pada seng gelombang), atau disimpan di tempat kering.
Tadi kita sudah kenal campuran. Sekarang kita bagi lagi menjadi dua jenis, dan pembeda antara keduanya cuma satu pertanyaan: apakah komponennya masih bisa dibedakan dengan mata?
Mari uji keempat contoh pada gambar:
Ingat! Sereal dalam susu bukan campuran homogen, walaupun terlihat "menyatu" saat diaduk. Selama butirannya masih terlihat, campurannya heterogen.
Pada sebuah larutan, ada dua peran:
Air disebut pelarut universal karena mampu melarutkan sangat banyak jenis zat. Tapi tidak semuanya — minyak dan pasir tetap tidak larut dalam air.
Karena campuran tidak berikatan secara kimia, ia dapat dipisahkan kembali hanya dengan cara fisika. Kuncinya adalah menemukan perbedaan sifat antara komponennya, lalu memanfaatkan perbedaan itu.
Berikut enam cara yang paling sering muncul. Perhatikan kolom "dasar pemisahan" — itulah yang biasanya ditanyakan.
Dasar pemisahan: perbedaan ukuran partikel. Partikel yang lebih besar dari lubang penyaring akan tertahan.
Contoh: menyaring pasir dari air, menyaring ampas dari air teh, menyaring santan dari parutan kelapa.
Dasar pemisahan: pelarutnya menguap lebih dulu karena titik didihnya jauh lebih rendah, sehingga zat terlarut tertinggal sebagai kristal.
Contoh: membuat garam dari air laut, memperoleh gula dari nira.
Dasar pemisahan: perbedaan titik didih. Zat yang mendidih lebih dulu diuapkan, lalu uapnya diembunkan kembali menjadi cairan murni yang disebut destilat.
Contoh: membuat air murni (akuades), menyuling minyak kayu putih, memisahkan bensin dan solar dari minyak bumi.
Dasar pemisahan: hanya salah satu komponen yang dapat menyublim, sedangkan pengotornya tidak.
Contoh: memurnikan kapur barus atau iodin dari campuran pasir.
Dasar pemisahan: perbedaan kecepatan merambat tiap komponen pada medium diam ketika terbawa medium yang bergerak.
Contoh: memisahkan zat warna pada tinta atau pewarna makanan, tes doping pada atlet.
Dasar pemisahan: perbedaan massa jenis. Putaran berkecepatan tinggi melemparkan komponen yang lebih rapat ke dasar tabung.
Contoh: memisahkan sel darah merah dari plasma darah, memisahkan krim dari susu.
Ingat! Perhatikan baik-baik apa yang ingin diambil. Kalau yang diinginkan zat terlarutnya (misalnya garam), pakai evaporasi. Kalau yang diinginkan pelarutnya (misalnya air murni), pakai distilasi. Keduanya sama-sama memanfaatkan titik didih, tetapi hasil yang diambil berbeda.
Kita kembali ke partikel, tapi kali ini yang kita lihat adalah tarik-menarik di antara mereka. Dari dua gaya sederhana ini lahir beberapa gejala yang tampak ajaib.
Cara mengingatnya: kohesi seperti kompak dengan sesama; adhesi seperti menempel pada benda lain.
Sekarang lihat apa yang terjadi kalau kedua gaya itu bersaing. Permukaan zat cair di dalam tabung sempit ternyata tidak rata, melainkan melengkung. Lengkungan itu disebut meniskus.
| Zat cair | Perbandingan gaya | Bentuk permukaan | Akibatnya |
|---|---|---|---|
| Air dalam kaca | adhesi > kohesi | meniskus cekung | tepi naik, air membasahi kaca |
| Raksa dalam kaca | kohesi > adhesi | meniskus cembung | tepi turun, raksa tidak membasahi kaca |
Logikanya begini. Pada air, tarikan molekul air terhadap kaca (adhesi) lebih kuat daripada tarikan sesama molekul air (kohesi). Akibatnya air "memanjat" dinding kaca sehingga bagian tepinya naik dan tengahnya cekung.
Pada raksa terjadi kebalikannya. Molekul raksa lebih suka berpegangan dengan sesamanya, sehingga ia menarik diri dari dinding, tepinya turun, dan tengahnya menonjol.
Ingat! Air = cekung. Raksa = cembung. Jangan tertukar. Ini juga menjelaskan aturan membaca gelas ukur di Bab 1: karena air bermeniskus cekung, kita membacanya pada titik terendah lengkungan.
Kapilaritas adalah naiknya (atau turunnya) zat cair di dalam pipa yang sangat sempit, yang disebut pipa kapiler.
Kapilaritas adalah kerja sama dua gaya tadi:
Karena itu, makin sempit pipanya, makin tinggi air dapat naik.
Contoh kapilaritas di sekitarmu: minyak tanah naik pada sumbu kompor, air merambat pada kain pel, tinta meresap ke kertas, dan — yang paling penting — air tanah naik dari akar sampai ke daun melalui pembuluh xilem yang sangat sempit.
Partikel tidak pernah benar-benar diam. Gerakan tak henti inilah yang membuat dua peristiwa berikut terjadi dengan sendirinya, tanpa perlu diaduk atau didorong.
Difusi adalah perpindahan partikel dari daerah berkonsentrasi tinggi menuju daerah berkonsentrasi rendah, sampai tersebar merata.
Contoh yang bisa langsung kamu rasakan: bau masakan dari dapur yang lama-lama tercium sampai ruang tamu; setetes tinta yang lama-lama mewarnai seluruh air dalam gelas walaupun tidak diaduk; asap obat nyamuk yang memenuhi kamar.
Ingat! Kalau konsentrasi kedua daerah sudah sama, tidak ada lagi perpindahan bersih. Partikelnya tetap bergerak — tetapi jumlah yang pergi ke kanan sama dengan jumlah yang datang dari kanan, sehingga hasil akhirnya nol. Jawaban "partikel berhenti bergerak" itu keliru; yang berhenti adalah perpindahan bersihnya.
Osmosis adalah bentuk khusus dari difusi. Bedanya ada dua, dan keduanya wajib kamu ingat.
Arah perpindahannya: air bergerak dari larutan encer menuju larutan pekat. Kelihatannya berlawanan dengan difusi, padahal tidak — kalau yang kita lihat adalah airnya, air memang bergerak dari tempat yang airnya banyak ke tempat yang airnya sedikit. Tetap dari tinggi ke rendah.
Air selalu bergerak dari sisi hipotonik menuju sisi hipertonik. Akibatnya, permukaan larutan di sisi hipotonik turun, dan permukaan di sisi hipertonik naik.
Ingat! Dua kekeliruan yang paling sering terjadi: menyebut perpindahan air lewat membran sebagai "difusi" (padahal namanya osmosis), dan membalik arahnya menjadi dari hipertonik ke hipotonik. Pegang satu kalimat ini: air mengejar yang lebih pekat.
Ada juga transpor aktif, yang kadang muncul sebagai pilihan pengecoh. Bedanya jelas: transpor aktif memindahkan zat melawan arah konsentrasi (dari rendah ke tinggi) dan karena itu membutuhkan energi. Difusi dan osmosis berlangsung sendiri tanpa energi tambahan.
Setiap bahan punya sifat yang membuatnya cocok untuk pekerjaan tertentu. Dua sifat berikut sering tertukar, padahal artinya berbeda jauh.
Kekerasan adalah kemampuan suatu bahan menahan goresan. Untuk mineral, kekerasan diukur dengan skala Mohs yang bernilai 1 sampai 10.
Cara mengujinya sederhana dan bisa kamu bayangkan: saling menggoreskan. Mineral yang bernilai lebih tinggi mampu menggores mineral yang bernilai lebih rendah, tetapi tidak sebaliknya. Intan bernilai 10 karena ia dapat menggores semua mineral lain dan tidak ada yang bisa menggoresnya.
Ingat! Skala Mohs mengukur kekerasan — bukan kilau, bukan keteraturan susunan partikel, dan bukan kecepatan menghantarkan panas. Ketiganya sering dipasang sebagai pilihan pengecoh karena semuanya terdengar seperti sifat mineral yang bagus.
Sekarang dua sifat yang sering dianggap sama padahal berbeda:
Karet gelang sangat elastis tetapi tidak kuat — ia bisa meregang berkali-kali panjangnya, tapi gampang putus. Kawat baja sangat kuat tetapi tidak elastis — ia sanggup menahan beban besar, tapi hampir tidak bisa meregang.
Cara membaca grafik seperti ini:
Perhatikan Gambar Grafik Tegangan dan Regangan. Manakah pernyataan yang benar mengenai benda A dan benda B?
Pembahasan:
Langkah 1 — baca sumbu tegak. Kurva A mencapai tegangan maksimum yang lebih tinggi daripada kurva B. Artinya A sanggup menahan tegangan lebih besar sebelum putus.
Langkah 2 — baca sumbu mendatar. Kurva B memanjang lebih jauh ke kanan. Artinya B mampu meregang lebih panjang.
Langkah 3 — pasangkan dengan istilahnya. Menahan tegangan besar = kekuatan bahan. Meregang jauh = elastisitas.
Jawaban: Benda A memiliki kekuatan bahan yang lebih besar daripada benda B. Adapun soal elastisitas, justru benda B yang lebih elastis — jadi pernyataan yang menyebut A lebih elastis adalah keliru.
Bagian terakhir bab ini mengajak kita melihat materi dalam ukuran yang jauh lebih besar dan jauh lebih kecil sekaligus: batuan yang terbentuk dari perut bumi, dan inti atom yang meluruh dengan sendirinya.
Batuan beku terbentuk dari magma yang mendingin dan membeku. Ada dua macam, dan yang membedakan adalah di mana magma itu membeku:
Batu apung punya kisah pembentukan yang khas:
Ingat! Rongga pada batu apung adalah bukti adanya banyak gas dalam magmanya. Pilihan "karena batuan menerima panas yang sangat tinggi" adalah pengecoh — panas saja tidak menciptakan rongga. Yang menciptakan rongga adalah gas.
Sebagian atom memiliki inti yang tidak stabil. Inti seperti itu bisa hancur dengan sendirinya — tanpa dipanaskan, tanpa dipukul, tanpa dicampur apa pun. Peristiwa ini disebut peluruhan radioaktif, dan sifatnya spontan.
Ketika meluruh, inti memancarkan tiga macam radiasi:
Ingat! Karena ada yang berupa materi dan ada yang berupa energi, jawaban terlengkap untuk "apa yang dipancarkan pada peluruhan radioaktif" adalah energi dan materi. Pilihan "hanya neutron" terlalu sempit, dan sinar-X bukan hasil peluruhan inti secara spontan.
Waktu paruh adalah waktu yang dibutuhkan agar separuh dari isotop radioaktif meluruh, sehingga tersisa setengahnya.
Polanya selalu sama dan mudah diingat:
100\% \to 50\% \to 25\% \to 12{,}5\% \to 6{,}25\% \to 3{,}125\%
Prinsip ini dipakai untuk memperkirakan umur fosil dan batuan purba. Ilmuwan mengukur berapa persen isotop yang masih tersisa, lalu menghitung sudah berapa kali waktu paruh berlalu.
Dalam menentukan umur sebuah fosil, diperoleh data persentase isotop yang tersisa pada tiap tahap: tahap 1 = 100%, tahap 2 = X, tahap 3 = 25%, tahap 4 = 12,5%, tahap 5 = Y. Berapakah nilai X dan Y?
Pembahasan:
Langkah 1 — temukan polanya. Bandingkan tahap 3 dan tahap 4: 25\% \to 12{,}5\%, berarti tiap tahap dikalikan \tfrac{1}{2}.
Langkah 2 — hitung X. X berada di antara 100% dan 25%.
X = 100\% : 2 = 50\%
Langkah 3 — hitung Y. Y adalah setengah dari tahap 4.
Y = 12{,}5\% : 2 = 6{,}25\%
Langkah 4 — periksa kembali. Deret lengkapnya menjadi 100%, 50%, 25%, 12,5%, 6,25% — setiap suku tepat setengah dari suku sebelumnya. Cocok.
Jawaban: X = 50% dan Y = 6,25%.
Ingat! Kesalahan yang paling sering adalah membagi 12,5% dengan 4 sehingga memperoleh 3,13%. Waktu paruh berarti dibagi dua, satu tahap satu kali pembagian.
| Cara | Dasar pemisahan | Contoh |
|---|---|---|
| Filtrasi | ukuran partikel | pasir dari air |
| Evaporasi/kristalisasi | pelarut menguap, zat terlarut tertinggal | garam dari air laut |
| Distilasi | titik didih, uapnya ditangkap | air murni, minyak bumi |
| Sublimasi | salah satu zat dapat menyublim | kapur barus dari pasir |
| Kromatografi | kecepatan merambat | zat warna tinta |
| Sentrifugasi | massa jenis | sel darah dari plasma |
Selamat, kamu sudah menyelesaikan bab kedua!
Kalau kamu perhatikan, hampir semua hal di bab ini sebenarnya dijawab dengan pertanyaan yang sama: apa yang sedang terjadi pada partikelnya?
Kalau nanti kamu menemui soal yang belum pernah kamu lihat, coba mulai dari sana. Bayangkan partikelnya. Banyak jawaban yang tiba-tiba menjadi masuk akal.
Satu hal lagi yang sering menentukan benar atau salah di olimpiade: membaca soal dengan teliti. Ditanya massa atau volume? Yang diambil pelarutnya atau zat terlarutnya? Yang dimaksud kekuatan atau elastisitas? Perbedaan kecil pada pertanyaan bisa mengubah seluruh jawaban.
Di Bab 3 nanti kita akan masuk lebih dalam ke dunia zat: Kimia Dasar dalam Kehidupan. Di sana kamu akan berkenalan dengan asam, basa, garam, dan reaksi-reaksi yang setiap hari terjadi di dapur rumahmu sendiri.
Sampai jumpa di sana!