Modul Olimpiade IPA SD — Bab 5
Pernahkah kamu berdiri di dalam bus, lalu tiba-tiba bus mengerem mendadak? Badanmu terdorong ke depan. Padahal tidak ada yang mendorongmu.
Atau sebaliknya, ketika bus yang tadinya diam tiba-tiba melaju — badanmu terdorong ke belakang. Juga tanpa ada yang mendorong.
Kalau kamu pernah mengalaminya dan bertanya-tanya kenapa, bab ini akan menjawabnya. Dan bukan cuma itu: kamu juga akan tahu mengapa bola yang dilempar mendatar dan bola yang dijatuhkan begitu saja tiba di tanah pada saat yang sama, dan mengapa dua bola dengan berat berbeda jatuh bersamaan di ruang hampa.
Ayo kita mulai dari yang paling dasar.
Gaya adalah tarikan atau dorongan yang dikerjakan pada suatu benda. Satuannya newton (N), dan diukur dengan neraca pegas (dinamometer).
Gaya tidak bisa dilihat. Yang bisa kita lihat hanyalah akibatnya pada benda.
Gaya juga dapat mengubah kecepatan benda: mempercepat maupun memperlambatnya.
| Jenis gaya | Sumbernya | Contoh |
|---|---|---|
| Gaya otot | tenaga otot makhluk hidup | menendang bola, menarik gerobak, mengayuh sepeda |
| Gaya gesek | sentuhan dua permukaan | rem sepeda, telapak kaki di lantai |
| Gaya gravitasi | tarikan bumi | buah jatuh, air mengalir turun |
| Gaya pegas | benda elastis kembali ke bentuk semula | ketapel, per kasur, busur panah |
| Gaya magnet | tarik-menarik atau tolak-menolak kutub | magnet menempel di kulkas, jarum kompas |
Ingat! Setiap gaya bisa digolongkan sebagai mendorong atau menarik. Gaya gesek adalah gaya yang menahan (mendorong berlawanan arah gerak); magnet dengan kutub berbeda saling menarik; gravitasi selalu menarik ke bawah.
Kalau soal bertanya "gaya apa yang dimanfaatkan", periksa dulu apakah jawabannya lebih dari satu. Pada ketapel:
Gaya gesek muncul ketika dua permukaan bersentuhan, dan arahnya selalu berlawanan dengan arah gerak benda.
| Memperbesar gaya gesek | Memperkecil gaya gesek |
|---|---|
| alur pada ban dan sol sepatu | memberi pelumas (oli, gemuk) |
| membuat permukaan lebih kasar | memakai roda atau bantalan peluru |
| menambah beban di atas benda | memperhalus permukaan |
Gaya gesek punya dua wajah. Ia merugikan karena membuat mesin cepat aus dan memboroskan tenaga. Tapi ia juga menguntungkan — tanpa gaya gesek kita tidak bisa berjalan, rem tidak berfungsi, dan pensil tidak meninggalkan bekas di kertas.
Gaya gravitasi adalah gaya tarik bumi terhadap semua benda bermassa, arahnya selalu menuju pusat bumi.
Bukti paling sederhana: semua benda yang dilempar ke atas pasti jatuh kembali. Saat naik, gravitasi memperlambatnya sampai berhenti sejenak di titik tertinggi. Lalu gravitasi mempercepatnya turun kembali.
Gaya gravitasi jugalah yang menyebabkan benda memiliki berat. Ingat kembali dari Bab 1: massa adalah banyaknya materi (satuan kg, tetap di mana pun), sedangkan berat adalah gaya tarik bumi (satuan newton, berubah tergantung tempat).
Biasanya lebih dari satu gaya bekerja pada satu benda. Gabungan semuanya disebut resultan gaya.
R = F_1 + F_2
R = F_{\text{besar}} - F_{\text{kecil}}
Ingat! Gaya yang berlawanan arah harus dikurangkan, bukan dijumlahkan. Pilihan jawaban yang menjumlahkan (misalnya 160 + 300 = 460 N) selalu tersedia sebagai pengecoh. Jangan lupa juga menyebutkan arahnya.
Kalau kedua gaya sama besar dan berlawanan arah, resultannya nol. Benda tidak mengalami perubahan gerak: yang diam tetap diam, yang bergerak tetap bergerak dengan kecepatan tetap.
Kalau pegas digantungi beban, ia bertambah panjang. Selama bebannya belum terlalu besar, berlaku hubungan yang rapi: pertambahan panjang sebanding dengan beban.
Artinya, kalau 2 N menambah 3 cm, maka 4 N menambah 6 cm, dan 6 N menambah 9 cm.
Hubungan sebanding itu ada batasnya. Kalau bebannya terlalu besar, pegas mulai "kewalahan" dan pertambahan panjangnya melonjak tidak teratur lagi. Titik itu disebut batas kesebandingan.
Untuk mencari berapa gaya yang diperlukan tiap satu sentimeter, langkahnya dua. Pertama, cari pertambahan panjangnya dengan mengurangkan panjang akhir dengan panjang mula-mula. Kedua, bagi gaya dengan pertambahan itu.
Misalnya pegas sepanjang 10 cm menjadi 22 cm ketika diberi beban 24 N. Pertambahannya 22 - 10 = 12 cm, sehingga gaya tiap sentimeternya 24 : 12 = 2 N.
Ingat! Kesalahan tersering adalah membagi 24 dengan 22 (panjang akhir) alih-alih dengan 12 (pertambahannya). Yang berhubungan dengan gaya adalah pertambahan panjang, bukan panjang seluruhnya.
Sekarang kita beralih dari gaya ke gerak. Dan hal pertama yang harus dibereskan adalah dua kata yang sering dianggap sama padahal berbeda.
Kalau soal memberi tabel posisi terhadap waktu, cara mengerjakannya selalu sama. Perpindahan cukup dihitung dari posisi awal ke posisi akhir: kurangkan keduanya. Jarak dihitung dengan menjumlahkan besar setiap perubahan posisi satu per satu, tanpa memedulikan tandanya.
Perbedaan itu baru terasa kalau benda sempat mundur di tengah perjalanan. Misalnya posisi berturut-turut 8, 12, 10, dan 14 cm: perpindahannya 14 - 8 = 6 cm, sedangkan jaraknya 4 + 2 + 4 = 10 cm.
Ingat! Jarak selalu lebih besar atau sama dengan perpindahan, tidak pernah lebih kecil. Kalau hasilmu terbalik, pasti ada yang keliru.
Ingat! Kalau benda kembali ke titik semula, perpindahannya nol tetapi jaraknya tidak nol. Contoh: kamu lari mengelilingi lapangan satu putaran penuh — jaraknya mungkin 400 meter, tetapi perpindahanmu nol karena kamu berakhir di titik yang sama.
Tabel berikut mencatat posisi sebuah benda yang bergerak pada lintasan lurus.
| Waktu (s) | 0 | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Posisi (cm) | 2 | 4 | 8 | 12 | 10 | 14 | 18 | 16 | 20 |
Berapa perpindahan dan jarak yang dialami benda dari detik ke-2 sampai detik ke-5?
Pembahasan:
Langkah 1 — ambil datanya. Detik ke-2 sampai ke-5: posisinya 8 → 12 → 10 → 14 cm.
Langkah 2 — hitung perpindahan. Cukup lihat titik awal dan titik akhir.
14 - 8 = 6 \text{ cm}
Langkah 3 — hitung jarak. Jumlahkan semua perubahan tanpa memedulikan arahnya.
|12 - 8| + |10 - 12| + |14 - 10| = 4 + 2 + 4 = 10 \text{ cm}
Jawaban: Perpindahan 6 cm, jarak 10 cm.
Ingat! Jarak selalu lebih besar atau sama dengan perpindahan, tidak pernah lebih kecil. Kalau hasilmu terbalik, pasti ada yang keliru.
Kalau soal menyebut "jarak yang ditempuh dibagi waktu yang diperlukan", yang dimaksud adalah kelajuan.
Dalam percakapan sehari-hari kita menyebut keduanya "kecepatan", dan untuk soal hitungan sederhana rumusnya sama. Tapi kalau soal bertanya definisi, perhatikan baik-baik kata "jarak" atau "perpindahan".
v = \frac{s}{t} \qquad s = v \times t \qquad t = \frac{s}{v}
Dua konversi berikut paling sering dipakai, dan sebaiknya kamu hafal. Untuk mengubah km/jam menjadi m/s, bagilah dengan 3{,}6. Untuk mengubah m/s menjadi km/jam, kalikan dengan 3{,}6. Jadi 72 km/jam sama dengan 20 m/s, dan 5 m/s sama dengan 18 km/jam.
Angka 3,6 itu bukan hafalan buta: ia berasal dari 1.000 meter dibagi 3.600 detik. Kalau kamu lupa, turunkan saja dari sana.
Untuk satuan waktu, ingat pula bahwa 1 jam = 60 menit = 3.600 detik, dan 1 hari = 86.400 detik.
Ingat! Sebelum memasukkan angka ke rumus, samakan dulu satuannya. Kalau kecepatannya km/jam, waktunya harus dalam jam. Kalau kecepatannya m/s, waktunya harus dalam detik. Inilah sumber kesalahan nomor satu pada soal gerak.
Perhatikan: kalau angka 15 langsung dimasukkan, hasilnya 1.125 km — jelas mustahil untuk perjalanan 15 menit. Selalu periksa apakah jawabanmu masuk akal.
Untuk jarak yang tetap, kecepatan dan waktu berbanding terbalik: makin cepat bergerak, makin singkat waktunya. Hasil kali keduanya selalu sama, yaitu jaraknya.
v_{\text{rata-rata}} = \frac{\text{jarak total}}{\text{waktu total}}
Ingat! Kecepatan rata-rata bukan rata-rata dari kecepatan-kecepatannya. Kamu harus menjumlahkan seluruh jaraknya, menjumlahkan seluruh waktunya, baru membagi.
Ingat! Yang berbentuk garis miring naik adalah grafik jarak terhadap waktu pada GLB, bukan grafik kecepatan terhadap waktu. Periksa dulu apa yang tertulis di sumbu tegaknya sebelum memilih.
| Bentuk garis pada grafik v–t | Artinya |
|---|---|
| mendatar | kecepatan tetap (GLB) |
| naik | dipercepat |
| turun | diperlambat |
| berimpit dengan sumbu mendatar (v = 0) | benda diam |
Ingat! Pada grafik v–t, garis mendatar bukan berarti benda berhenti — artinya benda bergerak dengan kecepatan tetap. Benda baru benar-benar berhenti kalau garisnya menyentuh nilai nol. Ini jebakan yang paling sering muncul, misalnya pada soal orang naik eskalator dengan kecepatan tetap: grafiknya mendatar, bukan miring.
Ini trik yang sangat berguna: luas daerah di bawah grafik v–t sama dengan jarak yang ditempuh.
Sebuah partikel bergerak lurus. Grafiknya berupa garis lurus dari 8 m/s pada detik ke-0 menuju 24 m/s pada detik ke-8. Tentukan: (a) kecepatannya pada detik ke-6; (b) jarak yang ditempuh selama 8 detik.
Pembahasan:
Bagian (a) — cari percepatannya dulu.
a = \frac{24 - 8}{8} = 2 \text{ m/s}^2
Maka kecepatan pada detik ke-6:
v = 8 + 2 \times 6 = 20 \text{ m/s}
Bagian (b) — hitung luas trapesiumnya.
s = \frac{(8 + 24) \times 8}{2} = \frac{256}{2} = 128 \text{ meter}
Jawaban: (a) 20 m/s; (b) 128 meter.
Percepatan adalah perubahan kecepatan tiap satuan waktu.
a = \frac{\Delta v}{t} = \frac{v_t - v_0}{t}
Sebuah benda mengalami percepatan ketika kecepatannya berubah — baik bertambah, berkurang, maupun berubah arah.
Ingat! Benda yang melaju sangat cepat tetapi kecepatannya tetap tidak mengalami percepatan sama sekali. Percepatan mengukur perubahan, bukan besarnya kecepatan.
Sebuah kereta bergerak dengan kelajuan 72 km/jam. Saat memasuki lorong, masinis memperlambatnya dengan perlambatan 2 m/s² hingga berhenti tepat di ujung lorong. Berapa panjang lorong itu?
Pembahasan:
Langkah 1 — samakan satuannya.
72 \text{ km/jam} = 72 : 3{,}6 = 20 \text{ m/s}
Langkah 2 — pilih rumus yang tepat. Soal tidak menyebut waktu, dan yang dicari adalah jarak. Pakai rumus tanpa waktu.
v_t^2 = v_0^2 + 2 a s
Langkah 3 — masukkan angkanya. Kereta berhenti, jadi v_t = 0. Karena diperlambat, a = -2.
0 = 20^2 + 2 \times (-2) \times s
0 = 400 - 4s \quad \Rightarrow \quad s = \frac{400}{4} = 100 \text{ meter}
Jawaban: Panjang lorong 100 meter.
Ingat! Perlambatan ditulis dengan tanda negatif. Kalau lupa tanda minusnya, hasilnya akan salah tanda dan tidak masuk akal.
Bayangkan dua bola dengan massa berbeda dijatuhkan bersamaan dari ketinggian yang sama, di tempat tanpa udara. Mana yang sampai lebih dulu?
Jawabannya: keduanya sampai bersamaan, dengan percepatan yang sama.
Ini mungkin terasa berlawanan dengan pengalaman sehari-hari, karena di udara terbuka bulu ayam memang jatuh lebih lambat daripada batu. Tapi penyebabnya bukan massanya — melainkan hambatan udara yang lebih terasa pada benda ringan berpermukaan luas. Hilangkan udaranya, dan keduanya jatuh bersamaan.
Ingat! Di ruang hampa, benda berat tidak jatuh lebih cepat. Pilihan "bola A jatuh lebih cepat karena massanya lebih besar" adalah jebakan klasik yang memanfaatkan dugaan sehari-hari kita.
Sekarang percobaan yang lebih mengejutkan. Dua bola dilepaskan dari ketinggian yang sama pada saat yang sama. Bola pertama dilepas begitu saja. Bola kedua dilempar mendatar sehingga melayang jauh ke samping.
Ternyata keduanya menyentuh tanah pada saat yang sama.
Alasannya: gerak mendatar dan gerak vertikal berlangsung saling bebas — tidak saling memengaruhi. Lamanya benda jatuh hanya ditentukan oleh gerak vertikalnya, yaitu oleh ketinggian awalnya. Kecepatan mendatar hanya menentukan sejauh mana ia mendarat, bukan kapan ia mendarat.
Prinsip yang sama muncul di sini. Perahu bergerak menyeberang dengan 4 m/s, sedangkan arus membawanya ke samping dengan 3 m/s. Kedua gerak itu berlangsung bersamaan dan saling bebas.
Kecepatan sebenarnya dicari dengan aturan segitiga siku-siku:
v = \sqrt{4^2 + 3^2} = \sqrt{16 + 9} = \sqrt{25} = 5 \text{ m/s}
Sebuah perahu menyeberangi sungai dengan kecepatan 4 m/s tegak lurus terhadap arus sungai yang kecepatannya 3 m/s. Jika waktu tempuh perahu sampai di seberang adalah 12 detik, berapa jarak yang ditempuh perahu?
Pembahasan:
Langkah 1 — cari kecepatan sebenarnya. Kedua kecepatan saling tegak lurus, jadi digabung dengan aturan segitiga siku-siku.
v = \sqrt{4^2 + 3^2} = 5 \text{ m/s}
Langkah 2 — hitung jaraknya.
s = v \times t = 5 \times 12 = 60 \text{ meter}
Jawaban: 60 meter.
Ingat! Jarak yang ditanya adalah jarak yang benar-benar ditempuh perahu, yaitu sepanjang lintasan miringnya. Kalau hanya memakai 4 m/s, kamu memperoleh lebar sungainya (48 m), bukan jarak tempuhnya.
Hukum I Newton: jika resultan gaya yang bekerja pada benda sama dengan nol, maka benda yang diam akan tetap diam, dan benda yang bergerak akan tetap bergerak lurus dengan kecepatan tetap.
Sifat benda mempertahankan keadaan geraknya ini disebut kelembaman atau inersia.
Sekarang pertanyaan di awal bab tadi bisa dijawab:
Contoh lain: kertas di bawah gelas bisa ditarik cepat tanpa menumpahkan gelasnya, dan koin di atas kartu jatuh ke dalam gelas ketika kartunya disentil.
Bandul selalu tertinggal ke arah berlawanan dengan arah percepatannya.
Kasus yang mirip: sebuah bola berisi air setengah penuh menggelinding turun di bidang miring dengan kecepatan tetap. Bagaimana bentuk permukaan airnya?
Jawabannya: tetap mendatar. Selama tidak ada percepatan, permukaan bebas zat cair selalu tegak lurus arah gravitasi — dan gravitasi selalu mengarah ke bawah, tidak peduli kemiringan bidangnya.
Ingat! Permukaan air tidak ikut miring mengikuti kemiringan bidang. Ini gambar yang paling sering salah dipilih karena terlihat "logis".
Hukum II Newton: jika ada resultan gaya yang bekerja pada benda, benda itu akan mengalami percepatan yang searah dengan gaya tersebut.
F = m \times a
Dari rumus itu bisa dibaca dua hubungan:
Perhatikan Gambar Gaya Sama Massa Berbeda. Banyak soal Hukum II Newton sebenarnya tidak meminta hitungan sama sekali — cukup membandingkan.
Caranya: coret besaran yang sama pada kedua keadaan, lalu perhatikan yang tersisa. Kalau gayanya sama dan yang berbeda hanya massanya, maka dari a = F/m langsung terbaca bahwa massa yang lebih besar menghasilkan percepatan yang lebih kecil.
Jadi dua kereta yang ditarik dengan gaya sama tetapi bermuatan berbeda akan bergerak berbeda: kereta yang muatannya lebih berat bertambah cepatnya lebih lambat.
Sebaliknya, kalau massanya sama dan yang berbeda hanya gayanya, maka gaya yang lebih besar menghasilkan percepatan yang lebih besar — dan arah percepatannya selalu mengikuti arah resultan gayanya, tidak pernah melawan.
Dua hukum sebelumnya berbicara tentang satu benda. Hukum yang ketiga berbicara tentang dua benda yang saling berinteraksi.
Hukum III Newton: jika sebuah benda memberikan gaya pada benda lain, maka benda kedua memberikan gaya balasan kepada benda pertama yang sama besar tetapi berlawanan arah.
Gaya yang pertama disebut aksi, gaya balasannya disebut reaksi. Keduanya selalu muncul berpasangan — tidak pernah ada aksi tanpa reaksi.
Contohnya ada di mana-mana. Ketika kamu berjalan, kakimu mendorong lantai ke belakang, dan lantai mendorong kakimu ke depan — dorongan lantai itulah yang sebenarnya memajukanmu. Ketika balon yang ditiup dilepaskan, udara menyembur ke belakang dan balon terdorong ke depan. Roket pun bergerak dengan cara yang sama: gas panas disemburkan ke bawah, dan roket terdorong ke atas.
Ikan berenang dengan mendorong air ke belakang memakai siripnya, dan air mendorong ikan ke depan. Senapan tersentak ke belakang ketika peluru melesat ke depan.
Ingat! Karena aksi dan reaksi sama besar dan berlawanan arah, banyak yang mengira keduanya saling meniadakan sehingga tidak ada yang bergerak. Itu keliru. Aksi dan reaksi bekerja pada dua benda yang berbeda, sehingga tidak boleh dijumlahkan sebagai resultan pada satu benda.
Bandingkan dengan resultan nol pada Hukum I Newton: di sana kedua gaya bekerja pada benda yang sama, sehingga memang saling meniadakan. Inilah pembeda utama yang paling sering diuji.
| Bentuk garis | Artinya |
|---|---|
| mendatar | kecepatan tetap (bukan berhenti) |
| naik | dipercepat |
| turun | diperlambat |
| berimpit sumbu waktu | benda diam |
| luas di bawah grafik | jarak yang ditempuh |
Selamat, kamu sudah menyelesaikan bab kelima!
Bab ini penuh dengan hal-hal yang terasa berlawanan dengan dugaan sehari-hari. Bola berat dan bola ringan jatuh bersamaan. Bola yang dilempar jauh ke samping mendarat bersamaan dengan bola yang dijatuhkan lurus. Garis mendatar pada grafik justru berarti benda sedang bergerak.
Kalau ada satu hal yang ingin kamu bawa dari bab ini, biarlah ini: ketika soal terasa "sudah jelas jawabannya", justru di situlah kamu harus paling hati-hati. Dugaan sehari-hari kita sering keliru, dan pembuat soal tahu betul hal itu.
Ada juga dua pertanyaan yang bisa kamu pakai untuk hampir semua soal di bab ini:
Di Bab 6 kita akan melanjutkan dengan Energi, Usaha, dan Pesawat Sederhana. Kamu akan tahu mengapa mengungkit batu besar dengan linggis terasa jauh lebih ringan, padahal beratnya tidak berkurang sedikit pun.
Sampai jumpa di sana!